TITIKTEMU – Festival Ramadan Dekranasda Kabupaten Karawang 2026 berakhir sudah. Kegiatan itu bukan sekadar agenda seremonial pemerintah daerah, ia menjadi ruang hidup bagi ekonomi rakyat.
Selama sebelas hari, halaman Gedung Dekranasda Karawang berubah menjadi ruang pertemuan yang hangat: antara aroma kuliner rumahan, kerajinan tangan, dan mimpi para pelaku usaha kecil.
Pada Minggu, 15 Maret 2026, Sekretaris Daerah Karawang, Asep Aang Rahmatullah, hadir mewakili Bupati Karawang Aep Syaepuloh untuk menandai berakhirnya perhelatan yang berlangsung sejak awal Ramadan.
Namun, bagi puluhan pelaku usaha kecil yang membuka lapak di sana, festival ini bukan hanya soal pembukaan dan penutupan. Ia adalah kesempatan.
Kesempatan memperkenalkan produk, menyapa pembeli, sekaligus bertahan di tengah persaingan pasar yang semakin padat.
“Festival ini menjadi ruang strategis bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk unggulan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Aang dalam sambutannya.
Selama 11 hari, dari 5 hingga 15 Maret 2026, tenda-tenda festival dipenuhi 42 tenant UMKM. Mereka membawa beragam produk: makanan berbuka puasa, kerajinan tangan, hingga berbagai produk kreatif khas Karawang.
Dari transaksi yang tercatat, festival ini menghasilkan perputaran ekonomi sebesar Rp161.639.500. Angka yang mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan transaksi ritel besar, tetapi bagi pelaku usaha kecil, angka itu adalah napas.
Di balik angka tersebut, ada cerita tentang dapur rumah yang kembali mengepul, tentang tangan-tangan pengrajin yang terus bekerja, dan tentang usaha kecil yang berusaha tetap hidup.
Festival Ramadan sendiri digelar dua kali oleh Pemerintah Kabupaten Karawang tahun ini, pertama di Karangpawitan, kemudian di halaman Dekranasda Karawang.
Bagi pemerintah daerah, festival semacam ini diharapkan bukan hanya menjadi agenda tahunan. Ia diharapkan menjadi ruang berkelanjutan bagi pertumbuhan usaha kecil.
Sebab, seperti diingatkan Aang, ekonomi daerah sering kali berdiri di atas fondasi yang sederhana: usaha kecil, pasar lokal, dan kerja keras warga.
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi daerah. Karena itu harus terus diperkuat agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Karawang,” ujarnya.
Dan di antara lampu-lampu tenda yang perlahan dipadamkan setelah festival berakhir, harapan itu masih tersisa, di tangan para pelaku UMKM yang pulang dengan cerita baru tentang perjuangan mereka.***





