Kaum Anshar Selalu Berbaik Hati Terhadap Kaum Muhajirin

Ilustrasi kebersamaan Kaum Anshar dengan Kaum Muhajirin yang selalu hidup rukun. (net)

TITIKTEMU – Kabupaten Karawang – Jawa Barat kembali dipanaskan dengan situasi konflik antar LSM/Ormas dalam hal kepentingan pengelolaan limbah ekonomis di suatu industri. Dalam persoalan ini biasanya sering terjadi konflik horizontal yang berkepanjangan.

Sehingga diperlukan peranan para steakholder khususnya di jajaran Muspida Karawang untuk menjembatani dalam menyelesaikan persoalannya.

Khususnya di Karawang, persoalan seperti ini biasanya sering muncul istilah ‘Warga Pribumi’ yang dinilai lebih berhak untuk menikmati “isi perut’ Karawang. Lalau apa sebenarnya makna pribumi?.

Pribumi atau bumiputra adalah orang atau penduduk asli. Dalam hal tertentu, pribumi tidak bermakna sama dengan ‘primordial’ yang lebih identik ke dalam arti negatif, perasaan kesukuan yang berlebihan.

Dalam persoalan tertentu, istilah pribumi dan pendatang sering memunculkan konflik sosial. Namun pada dasarnya istilah Pribumi dan Pendatang ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW.

Yaitu dimana kelompok Anshar (pribumi) selalu hidup bergandengan dengan kelompok Muhajirin (pendatang), meski mereka dalam bingkai banyak perbedaan, termasuk perbedaan suku, ras, golongan, bahkan perbedaan agama sekalipun.

Pada tahun 622 masehi, Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah dalam rangka menjaga keimanan dan menghindarkan para kaumnya (Muhajirin) dari gangguan kafir Quraisy.

Secara bahasa kaum Anshar artinya ‘Penolong’. Oleh karenanya, saat itu Kaum Anhar dengan senang hati menerima kedatangan hijrahnya Rasulllah bersama umatnya dari Mekkah ke Madinah.

Mereka disebut sebagai Kaum Anshar, yaitu kaum yang berbaik hati dan menerima Nabi Muhammad sekaligus pengikutnya. Sehingg hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saat itu adalah menyatukan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin dalam ikatan persaudaraan.

Saat melakukan pertemuan di rumah Anas bin Malik yang dihadiri oleh 90 orang Anshar dan Muhajirin, Rasulullah mempersaudarakan mereka untuk saling menolong dan mewarisi. Bahkan persaudaraan kaum Muhajirin dan Anshar dikukuhkan dengan dibangunnya Masjid Nabawi di Madinah.

Sejak awal kedatangan ke Kota Madinah, kaum Anshar menerima kedatangan kaum Muhajirin dengan penuh sukacita. Sehingga dalam sejarahnya tercatat bahwa peranan kaum Anshar dalam dakwah nabi begitu sangat besar.

Kaum Anshar memberikan bantuan materi kepada Kaum Muhajirin, baik berupa harta hingga tempat tinggal. Untuk menjamin tempat tinggal para Muhajirin pada masa awal perjuangan Islam, kaum Anshar sampai menghibahkan tanah mereka.

Tanah itu kemudian oleh Rasulullah dibangun tempat tinggal untuk kaum Muhajirin. Di samping itu, kaum Anshar juga dengan senang hati menampung para Muhajirin di rumahnya.

Dalam sebuah riwayat, diceritakan bahwa kaum Anshar hendak membagi setengah hasil panen kurma mereka kepada Muhajirin. Namun, Rasulullah menyarankan agar memberikan panen tersebut seperlunya, kepada para Muhajirin.

Kaum Anshar menyediakan tempat tinggal dan membagikan hartanya secara adil. Dengan demikian, perjalanan Nabi Muhammad untuk melaksanakan dakwah Islam di Madinah pun berjalan dengan lebih mudah. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.