TITIKTEMU – Petani di Desa Sekarwangi, Kecamatan Rawamerta, Karawang, tengah menghadapi ancaman serius. lahan pertanian mereka makin tergerus oleh hama, terutama tikus dan sundep. Persoalan ini mengemuka dalam Reses II Tahun Sidang 2024-2025 yang digelar oleh anggota DPRD Jawa Barat, Dea Eka Rizaldi, SH.
Bertemu langsung dengan para petani, Senin 10 Maret 2025, Dea Eka mendengar keluhan mereka dengan seksama. Salah seorang petani bahkan dengan lantang berteriak, “Sawah beak ku beurit!” (Lahan pertanian habis oleh hama tikus!).
Teriakan ini mencerminkan keresahan para petani yang terancam kehilangan sumber mata pencaharian mereka.
Menurut Dea Eka, salah satu penyebab utama serangan hama tikus adalah pola tanam yang tidak seragam di antara petani. Berbeda-beda masa tanam dan panen membuat hama lebih mudah berkembang biak tanpa kontrol alami.
“Kita butuh regulasi khusus dari pemerintah daerah untuk mengatur pola tanam yang lebih seragam. Ini penting supaya petani bisa lebih terlindungi dari ancaman hama,” ujar Dea Eka.
Tak hanya hama tikus, hama sundep juga menjadi momok bagi petani. Dea Eka menyoroti bahwa penggunaan pupuk kimia yang tidak terkendali turut memperparah kondisi ini.
“Hama sundep muncul karena tanah semakin asam akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan. Dulu cukup sekali traktor, sekarang harus dua kali. Itu tandanya tanah makin rusak,” jelasnya.
Dea Eka menegaskan bahwa solusi jangka panjang bagi petani adalah beralih ke pupuk organik. Meskipun peralihan ini tidak bisa dilakukan secara instan, langkah kecil namun konsisten akan membawa hasil yang lebih baik.
“Kalau pakai pupuk kimia terus, lima tahun ke depan panen bisa turun drastis. Yang tadinya dapat 6–7 ton per hektare, bisa-bisa cuma 1–3 ton,” paparnya.
Optimisme muncul dari uji coba pupuk organik yang dilakukan Pemprov Jawa Barat di Cianjur. Dari lahan seluas 400 hektare milik pemerintah, hasil panen menunjukkan peningkatan signifikan—bahkan ada yang mencapai 12 ton per hektare.
Mendengar angka tersebut, para petani yang hadir spontan berceletuk, “Waduh, bisa kabayar hutang!” Seolah melihat harapan baru di tengah krisis yang mereka hadapi.
Namun, Dea Eka mengingatkan bahwa transisi ke pupuk organik harus dilakukan secara bertahap.
“Tanah juga bisa kaget kalau langsung diubah total. Jadi, harus pelan-pelan dan konsisten,” katanya.
Dengan regulasi yang tepat dan kesadaran petani untuk kembali ke pola pertanian ramah lingkungan, masa depan pertanian di Sekarwangi masih bisa diselamatkan.
“Lebih baik kita mulai dari sekarang, daripada terus menerus merusak tanah dengan pupuk kimia,” tutupnya. ***




