TITIKTEMU – Musim mudik Idulfitri selalu menjadi momen sibuk bagi jalur penyeberangan Merak-Bakauheni. Ribuan kendaraan pribadi memadati pelabuhan setiap harinya. Di balik hiruk-pikuk itu, ternyata tersembunyi sebuah bisnis besar yang mengalir deras.
Bayangkan saja, jika dengan estimasi 200 ribu penumpang yang menggunakan kendaraan pribadi roda empat, dan harga tiket penyeberangan mencapai Rp481 ribu per kendaraan, nilai transaksi yang tercatat bisa menyentuh angka fantastis. Jika dikalkulasikan, potensi pendapatan dari sektor ini mencapai ratusan miliar rupiah dalam satu musim mudik saja.
Tak heran, banyak pihak menduga bahwa salah satu alasan pemerintah belum membangun jembatan penghubung Selat Sunda, seperti halnya Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Madura, adalah karena adanya kepentingan ekonomi di balik layanan penyeberangan ini. Padahal, masyarakat sangat berharap adanya jembatan tersebut demi efisiensi waktu dan biaya.
Saat ini, perjalanan menggunakan kapal feri bisa memakan waktu antara dua hingga empat jam, tergantung kondisi antrean dan cuaca. Andai jembatan Selat Sunda benar-benar terwujud, durasi perjalanan tentu bisa jauh lebih singkat dan lancar, sekaligus membuka akses ekonomi baru bagi kawasan sekitarnya.
Harapan itu terus bergema di kalangan masyarakat, khususnya para pemudik yang setiap tahun harus menghadapi kepadatan di Pelabuhan Merak dan Bakauheni. Kini, publik menanti langkah berani dari pemerintah untuk mewujudkan infrastruktur strategis tersebut demi masa depan transportasi yang lebih efisien dan terintegrasi.***
Penulis : Revo Ferdiansyah






