TITIKTEMU – Proyek Underpass Gorowong di Desa Warungbambu, Karawang Timur, Karawang, dikebut. Hingga awal Oktober 2025, progres fisiknya sudah mencapai 39,97 persen. Angka yang belum genap separuh, tapi cukup memberi tanda bahwa jalan baru sedang menembus ke masa depan lalu lintas Karawang.
Proyek senilai Rp13,2 miliar dari pagu Rp15 miliar ini menjadi salah satu infrastruktur kunci yang digarap Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Karawang. Tujuannya sederhana tapi krusial: memutus rantai kemacetan yang setiap hari mendera kawasan industri timur Karawang.
“Sekarang kami fokus di tahap penggalian dan pemasangan struktur penahan tanah,” ujar Julianto Agung Nugroho, Ketua Tim Jembatan DPUPR Karawang, Selasa 7 Oktober 2025.
“Ini fondasi utama sebelum masuk ke tahap pengecoran beton dan pembangunan struktur bawah rel,” lanjutnya.
Tapi membangun underpass bukan sekadar soal menggali tanah. Tantangan ada di setiap meter galian. Salah satunya: pipa gas yang melintang di area proyek. “Itu menjadi tantangan tersendiri,” kata Julianto. “Kami sudah berkoordinasi dengan pihak terkait, dan pemindahan dijadwalkan pertengahan Oktober.”
Selain itu, DPUPR menaruh perhatian khusus pada sistem drainase. Gorowong bukan kawasan yang asing dengan genangan air.
Karena itu, desain underpass ini dilengkapi pompa otomatis yang siap bekerja saat hujan turun. Pompa itu akan menyedot air dari titik terendah dan mengalirkannya ke saluran drainase terdekat.
“Pompa ini seperti jantung yang menjaga underpass tetap hidup dan kering,” ujar Julianto.
Waktu pelaksanaan proyek ini hanya 154 hari kerja, dengan target rampung pada Desember 2025. Di atas kertas, tenggat itu tampak ketat. Tapi tim proyek menolak pesimistis. “Kami tak ingin meleset dari jadwal,” kata Julianto.
Jika semua berjalan sesuai rencana, Underpass Gorowong bukan hanya akan memperlancar arus kendaraan, tapi juga menjadi simbol baru perubahan wajah Karawang Timur, daerah yang tumbuh di antara deru mesin industri dan impian warga akan perjalanan yang lebih singkat.
Karena di balik setiap proyek infrastruktur, selalu ada cerita tentang waktu: waktu yang hilang di kemacetan, dan waktu yang berusaha ditebus dengan sebuah terowongan. Jibay ***




