TITIKTEMU – Tragedi di kolong jembatan CKM (Underpass Bendasari, Desa Kondangjaya, Karawang Timur) menyisakan luka yang belum sempat mengering. Satu keluarga terenggut dalam sekejap. Di rumah duka yang masih dipenuhi isak, Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh datang bukan sekadar membawa karangan duka, melainkan janji tentang masa depan anak-anak yang ditinggalkan.
Senin malam, 16 Februari 2026, orang nomor satu di Pemkab Karawang itu melangkah masuk ke rumah yang kini kehilangan suara orang tua. Padahal, Aep baru saja menulis ucapan belasungkawa di media sosialnya, namun Ia tergerak dan memutuskan datang langsung ke rumah duka.
Bersama Aep, Ketua PKK, Sekretaris Daerah, dan Kepala Dinas Perhubungan, ikut serta. “Kami datang sebagai pemerintah, tapi juga sebagai sesama manusia,” ujar Aep.
Di sudut rumah, satu anak masih berjuang di ranjang rumah sakit. Luka-lukanya belum kering setelah kecelakaan itu. Ia dirawat intensif di RSUD Karawang.
Sementara itu, anak sulung keluarga tersebut, Syifa, harus menelan kenyataan pahit: di usia belia, ia kini memikul peran orang tua. “Syifa tidak boleh berjalan sendirian,” ujar Aep kepada keluarga korban.
Pemerintah daerah, kata Aep, akan memfasilitasi Syifa untuk mendapatkan pekerjaan setelah Idul Fitri. Langkah itu diambil agar roda kehidupan keluarga yang tersisa tidak berhenti total.
Nasib adik Syifa pun mendapat perhatian khusus. Bocah itu menyimpan cita-cita sederhana namun luhur: menjadi penghafal Al-Qur’an. Pemerintah daerah berjanji akan mengarahkan pendidikannya ke pesantren, sesuai keinginan almarhum orang tuanya.
Di hadapan anak-anak yang kehilangan ayah dan ibu sekaligus, Aep mencoba menanamkan harapan. “Kalian tidak sendiri. Pemerintah dan masyarakat akan mendampingi,” kata Aep.
Tragedi ini juga memaksa pemerintah daerah mengambil keputusan keras. Jalur alternatif di Underpass Bendasari diputuskan ditutup permanen. Jalur itu dinilai terlalu berisiko dan telah berulang kali memakan korban. “Keselamatan warga tidak bisa ditawar,” tegas Aep.
Kecelakaan maut itu terjadi Minggu malam, 15 Februari 2026. Sebuah truk kontainer terguling dan menimpa minibus Toyota di Jalan Raya Tanggul Rawagabus, Desa Kondangjaya.
Tiga orang tewas di tempat, sementara tiga lainnya mengalami luka berat. Jalan gelap, kontur berbahaya, dan kendaraan besar menjadi kombinasi yang mematikan.
Kini, polisi masih menyusun kepingan peristiwa. Polres Karawang memeriksa sejumlah saksi, termasuk sopir truk kontainer, untuk memastikan kronologi dan faktor penyebab insiden. Namun bagi keluarga korban, penyelidikan itu datang terlambat untuk mengubah takdir.
Yang tersisa hanyalah anak-anak, rumah yang sunyi, dan janji negara untuk tidak membiarkan mereka tumbuh dalam kesepian.
Tragedi kolong jembatan itu bukan sekadar catatan kecelakaan lalu lintas. Ia adalah potret rapuhnya keselamatan di jalan dan rapuhnya hidup manusia ketika maut datang tanpa aba-aba. ***





