TITIKTEMU – Musyawarah Daerah (Musda) ke-6 Partai Demokrat Jawa Barat dipastikan bakal jadi panggung panas tahun ini. Aroma persaingan mulai terasa, bahkan sebelum palu sidang diketok. Dua nama yang kini santer disebut-sebut siap berebut kursi ketua. Mereka adalah Anton Suratto dan Cellica Nurrachadiana, keduanya sama-sama punya “label Senayan” sebagai anggota DPR RI.
Di satu sisi ada Anton Suratto, sang petahana punya modal jaringan dan pengalaman. Di sisi lain, muncul Cellica Nurrachadiana, figur yang tak bisa dipandang sebelah mata, dengan rekam jejak panjang di politik lokal hingga nasional.
Teh Celli: Dari Dunia Medis ke Panggung Politik
Cellica, atau yang akrab disapa Teh Celli, bukan wajah baru di Demokrat Jabar. Lahir di Bandung, 18 Juli 1980. Lulusan kedokteran di Universitas Kristen Maranatha dan Universitas Katolik Soegijapranata ini mengawali karier dari dunia medis.
Namun jalannya berbelok ke dunia profesional. Ia sempat muncul dalam film Surat Kecil untuk Tuhan sebagai dokter, peran yang seolah jadi jembatan menuju panggung publik yang lebih luas.
Loncat Cepat: Dari DPRD ke Kursi Wakil Bupati Termuda
Karier politik Cellica melesat sejak terpilih sebagai anggota DPRD Jawa Barat pada 2009. Hanya setahun berselang, ia langsung naik level dengan maju di Pilkada Karawang 2010 sebagai wakil bupati mendampingi Ade Swara.
Hasilnya? Menang. Bahkan, Cellica kala itu mencatatkan diri sebagai wakil bupati termuda di Indonesia, sebuah branding politik yang kuat hingga kini.
Karirnya di Partai Demokrat terus naik. Tahun 2013 Ia menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Karawang. Ia menjabat selama hampir satu dekade (2013-2022).
Selain itu, ia juga sempat menjadi anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat (2015-2020). Di tingkat provinsi, ia dipercaya sebagai Ketua Bidang Kesehatan DPD Partai Demokrat Jawa Barat.
Ujian Politik: Dari Plt hingga Bupati Definitif
Kariernya diuji saat Ade Swara tersandung kasus korupsi. Cellica kemudian naik sebagai pelaksana tugas bupati pada 2014. Momentum ini jadi titik balik.
Pada Pilkada 2015, ia maju sebagai calon bupati berpasangan dengan Ahmad Zamakhsyari dan berhasil menang tipis. Ia resmi dilantik oleh Ahmad Heryawan pada 2016.
Sebagai bupati, Cellica dikenal mendorong program hunian vertikal (rusun) sebagai respons atas menyusutnya lahan pertanian akibat ekspansi industri di Karawang, isu yang hingga kini tetap relevan.
Dinamika Kekuasaan dan Comeback di 2020
Tak mulus, masa kepemimpinannya juga diwarnai konflik internal, termasuk perseteruan dengan wakilnya sendiri. Puncaknya terjadi di Pilkada 2020, saat mantan wakilnya justru menjadi rival.
Namun Cellica tetap bertahan. Berpasangan dengan Aep Syaepuloh, ia kembali memenangkan kontestasi dan mengunci dominasinya di Karawang.
Akhir masa jabatan sebagai Bupati Karawang dua periode, Teh Celli maju di Pileg 2024 untuk legislator Senayan. Ia bertarung di Dapil Jabar VII. Hasilnya, Teh Celli lolos ke Senayan. Padahal pertarungan menuju Senayan di Dapil Jabar VII sangat ketat, terlebih di dalamnya ada incumbent yang juga dari Partai Demokrat, Vera Febyanthy.
Menuju Musda Demokrat Jabar: Pertarungan Citra dan Jaringan
Kini, panggungnya lebih besar: Jawa Barat. Musda Demokrat bukan sekadar agenda rutin, tapi ajang adu kekuatan antara figur lama dan penantang baru.
Anton Suratto punya keunggulan sebagai incumbent. Tapi Cellica datang dengan paket lengkap: pengalaman eksekutif, elektabilitas, dan citra publik yang sudah teruji.
Pertanyaannya, apakah Teh Celli mampu menggeser dominasi lama? Atau justru mesin politik petahana masih terlalu solid untuk digoyang?***





