TITIKTEMU – Musim kemarau 2026 mulai menekan sektor pertanian di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Keterbatasan pasokan air membuat ribuan hektare lahan persawahan terpaksa tidak ditanami karena petani khawatir mengalami kerugian.
Ketua Serikat Tani Karawang, Deden Sofyan, menyebut kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah Karawang, terutama kawasan yang bergantung pada ketersediaan air irigasi maupun curah hujan.
“Musim kemarau benar-benar berdampak terhadap sektor pertanian. Banyak areal sawah menganggur (tidak ditanami). Para petani harus menunda tanam, sampai pasokan air benar-benar aman,” kata Deden Sofyan di Karawang, dilansir dari antara, jumat (21/08/26).
Berdasarkan pendataan yang dilakukan Serikat Tani Karawang, lahan pertanian yang tidak digarap tersebar di sejumlah kecamatan. Di wilayah utara, kondisi tersebut antara lain ditemukan di Pakisjaya, Batujaya, Rengasdengklok, Cibuaya dan beberapa wilayah lainnya.
Persoalan serupa juga terjadi di kawasan selatan dan tengah Karawang. Sejumlah lahan di Kecamatan Tegalwaru, Pangkalan, Ciampel hingga sebagian Telukjambe Barat disebut telah cukup lama tidak ditanami.
“Kalau dihitung, luas areal sawah yang menganggur pada musim kemarau tahun ini lebih dari 2 ribu hektare,” ujarnya.
Menurut Deden, fenomena sawah tidak produktif ketika kemarau bukan persoalan baru. Hampir setiap tahun, petani di sejumlah wilayah menghadapi masalah serupa ketika debit air mulai menurun.
“Sejumlah areal persawahan yang biasanya produktif terpaksa dibiarkan menganggur karena keterbatasan pasokan air untuk mengairi lahan saat kemarau,” katanya.
Bagi petani, ketersediaan air menjadi pertimbangan utama sebelum memulai musim tanam. Tanpa kepastian air, petani memilih tidak mengambil risiko karena biaya pengolahan lahan hingga penanaman cukup besar.
“Kalau air tidak ada, kami tidak berani menanam. Takut sudah keluar biaya untuk mengolah sawah, tetapi tanaman akhirnya tidak bisa tumbuh,” kata Deden.
Minimnya suplai air disebut menjadi salah satu penyebab utama. Selain debit saluran irigasi yang menurun, terdapat pula lahan pertanian yang masih mengandalkan air hujan sehingga sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Deden juga menyoroti keberadaan embung yang seharusnya bisa menjadi salah satu sumber cadangan air bagi petani ketika musim kemarau.
“Penyebabnya termasuk kegagalan fungsi embung-embung yang telah dibangun Dinas Pertanian. Padahal saat kemarau embung seharusnya dapat dimanfaatkan oleh petani,” kata dia.
Embung pada dasarnya dibangun sebagai sarana konservasi untuk menampung air hujan, limpasan maupun rembesan air yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pertanian.
Dampak dari kondisi tersebut tidak hanya berhenti pada tertundanya masa tanam. Jika berlangsung panjang, ribuan hektare lahan yang tidak produktif berpotensi menekan hasil produksi padi sekaligus mengurangi pendapatan petani.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Karawang Rochman belum memberikan komentar ketika dikonfirmasi mengenai kondisi ribuan hektare sawah yang tidak ditanami selama musim kemarau 2026.***






