TITIKTEMU – Hampir mendekati 3 x 24 jam pihak Kepolisian Polres Karawang belum menetapkan tersangka insiden persekusi rombongan Kiyai Nahdatul Ulama Cikarang Utara di Rengasdengklok.
Padahal berdasarkan video yang sudah beredar di media sosial, para terduga pelaku yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang tersebut dinilai sudah bisa diidentifikasi.
Ketua GP Ansor Karawang, Ahmad Syahid mengatakan, ia sendiri meyakini ada aktor intelektual di balik insiden persekusi rombongan Kiyai NU ini. Hal ini bisa dilihat dari gerakan massa dari sebelum insiden persekusi terjadi.
“Kalau melihat banyaknya massa, kemudian ada upaya sweaping, keluar dari Ponpes Manbahul Ulum ditanya-tanya, saya kira ini ada yang menggerakan. Ya ada (aktor intelektual),” tutur Ahmad Syahid, saat berbincang di Titik Temu Podcast, Selasa (13/8/2024).
“Ada orang yang lalu lalang mencurigakan (pada sore hari), sehingga ini saya kira sudah direncakan, bukan kebetulan ketemu di jalan,” timpalnya.
Disampaikan Syahid, kasus ini merupakan persoalan yang miris, karena mengakibatkan seorang anggota Banser dan santri mengalami luka-luka lebam di bagian wajah. Beruntung Pak Kiyai saat itu tidak turun dari mobil, karena dilarang oleh korban (anggota Banser).
“Tapi kaca mata Pak Kiyai pecah, karena Pak Kiyai sempat membuka kaca mobil, kemudian sempat ada pukulan masuk mengenai kaca matanya,” kata Syahid.
Ditegaskan Syahid, sejak awal munculnya perdebatan nasab Bal’awi ini, Ansor tidak pernah membuka diskusi dalam bentuk apapun mengenai tesis KH. Imaduddin Ustman Al Bantani ini. Pertama, karena hal ini bukan kapasitasnya GP Ansor. Kedua, GP Ansor tidak memiliki kapasitas untuk membahas hal itu.
“Ansor tidak fokus di situ, sehingga tidak pernah menggelar soal diskusi persoalan nasab Ba’alawi, karena itu bukan ranah Ansor. Tugas Ansor dan Banser hanya mengawal para Kiyai kemanapun beliau berdakwah,” tuturnya.
Atas persoalan ini, sambung Syahid, GP Ansor meminta kepada pihak kepolisian untuk segera menangkap dan menetapkan tersangka. Karena dari beberapa ciri-ciri pelaku saat kejadian berdasarkan video yang sudah beredar, sebenarnya para terduga pelaku sudah bisa diidentifikasi.
“Saya khwatir ini akan menjadi presenden buruk bagi kinerja kepolisian, jika saja sampai 3 x 24 jam belum juga ada penetapan tersangka,” timpalnya.
Kembali ditegaskan Syahid, proses hukum dalam kasus ini harus terus berjalan. Meskipun pada akhirnya nanti para tersangka akan meminta maaf di depan publik.
“Kalau mereka minta maaf, maka wajib kita maafkan sebagai sesama muslim. Tapi tetap proses hukum harus tetap berjalan, agar ini menjadi pembelajaran bersama, agar di kemudian hari tidak terulang kejadian yang sama,” tandasnya. ***





