TITIKTEMU – Di balik riuhnya kendaraan yang melintasi jalan menuju jembatan penghubung Karawang-Bekasi di Batujaya, ada kisah yang terpendam selama hampir dua dekade. Jalan yang kini menjadi akses vital bagi masyarakat itu menyimpan luka bagi warga Dusun Krajan, Desa Batujaya, yang tanahnya terpaksa tergeser oleh pembangunan.
Bagi banyak orang, jalan ini mungkin hanya sekadar jalur penghubung. Namun bagi Imron (53), setiap langkah di atas aspal ini mengingatkannya pada janji yang tak pernah lunas.
“Tahun 2005, orang tua saya dipanggil ke kantor desa. Katanya, kami akan menerima kompensasi atas tanah yang terkena pembangunan jalan. Tapi sampai sekarang, uang itu belum seluruhnya kami dapatkan,” tutur Imron saat ditemui di rumahnya, Senin 17 Maret 2025.
Saat itu, harga yang disepakati adalah Rp80 ribu per meter, belum termasuk bangunan dan tanaman. Namun, yang diterima orang tuanya hanya sebagian kecil, sekadar uang muka.
Janji untuk membayar sisanya terus bergulir, hingga akhirnya menguap tanpa kepastian.
Kini, tanah yang dulu dihargai puluhan ribu rupiah per meter itu telah bernilai jutaan. “Tahun 2010 saja, ada yang jual tanah di sekitar jalan ini dengan harga Rp2 juta per meter. Bisa dibayangkan berapa nilainya sekarang,” kata Imron, lirih.
Hal serupa dialami Marwan (53), yang keluarganya harus merelakan lebih dari 500 meter tanahnya untuk pembangunan jalan. Sayangnya, seperti halnya Imron, ia juga hanya menerima janji tanpa kepastian.
“Kami ini rakyat kecil, orang kampung. Apa yang bisa kami lakukan? Orang tua saya hanya menerima DP, dan sampai sekarang tak ada kejelasan,” ucapnya dengan mata menerawang.
Jalan penghubung Batujaya ini mungkin menjadi kebanggaan banyak pihak. Namun bagi Imron, Marwan, dan warga lainnya, jalan ini adalah pengingat bahwa keadilan tak selalu berpihak kepada mereka yang bersuara pelan. Dua puluh tahun berlalu, namun janji itu masih tergantung di udara, menunggu untuk ditepati. ***




