IGD RSUD Karawang “Overload”, Manajemen Angkat Bicara: Pasien Membludak, Sistem Bakal Dirombak

TITIKTEMU – Gelombang keluhan soal pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSUD Karawang yang sempat viral akhirnya mendapat respons resmi. Pihak manajemen buka suara, dan tak menampik kondisi saat itu sedang jauh dari ideal.

Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan, dr. MHD Parlindungan, mengatakan, rumah sakit mengakui IGD tengah mengalami lonjakan pasien ekstrem hingga nyaris “kolaps”.

Dalam satu waktu, kata dia, tenaga medis harus menangani hampir 50 pasien sekaligus, padahal kapasitas normal hanya sekitar 30 orang. Artinya, tingkat keterisian IGD sempat menyentuh hampir 200 persen.

“Kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Situasi ini memang tidak ideal, tapi kami tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik,” ujar Parlindungan.

Kondisi over kapasitas ini bukan sekadar soal penuh, tapi juga berdampak serius pada kualitas layanan. Dalam situasi padat, pengawasan pasien jadi lebih sulit dan risiko keselamatan meningkat.

“Kalau sudah melebihi kapasitas seperti itu, mutu pelayanan dan keselamatan pasien jadi tantangan besar. Ini yang paling kami khawatirkan,” tegasnya.

Sorotan publik juga sempat mengarah pada kabar pasien yang diminta mencari rumah sakit lain. Menurut dia, langkah tersebut bukan tanpa alasan.

Setiap pasien, kata Parlindungan, sudah melalui pemeriksaan awal dokter jaga. Namun, dalam kondisi IGD yang penuh sesak dan pasien dinilai masih stabil, mereka disarankan dirujuk ke fasilitas kesehatan lain yang lebih siap.

Di sisi lain, manajemen juga menyoroti lemahnya penerapan sistem rujukan berjenjang. Pasien dari wilayah jauh seperti Batujaya, misalnya, harus menempuh perjalanan hingga dua jam ke Karawang, sebuah risiko besar dalam kondisi darurat.

“Kasus emergency seharusnya ditangani dulu di fasilitas kesehatan terdekat sebelum dirujuk. Ini penting untuk keselamatan pasien,” jelasnya.

Peristiwa ini jadi alarm keras bagi RSUD Karawang. Manajemen memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari perbaikan sistem triase hingga penguatan koordinasi dengan rumah sakit lain.

Tujuannya, mencegah penumpukan pasien di satu titik dan memastikan layanan tetap optimal meski terjadi lonjakan. “Kami berkomitmen melakukan pembenahan agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tutup Parlindungan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.