TITIKTEMU – Kesabaran warga Kelurahan Tunggakjati, Kecamatan Karawang Barat, tampaknya sudah berada di titik batas. Mereka mengaku menjadi korban serbuan kutu beras yang diduga berasal dari gudang penyimpanan beras di sekitar permukiman.
Gangguan itu bukan lagi sekadar rasa tidak nyaman. Warga mengklaim, kutu beras kini masuk ke dalam rumah dalam jumlah masif, memaksa mereka membersihkan lantai dan perabotan hingga tiga sampai lima kali setiap hari.
“Setiap pagi dan malam jumlahnya makin banyak. Sabtu malam, istri saya kemasukan kutu beras sampai telinganya berdarah. Anak tetangga juga mengalami hal yang sama,” ungkap seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, Jumat 3 Juli 2026.
Keluhan serupa datang dari warga lainnya. Ia mengaku anaknya mengalami mata bengkak yang diduga dipicu banyaknya kutu beras di sekitar rumah.
“Kalau keluar rumah, kutunya beterbangan. Anak saya sampai matanya bengkak. Sudah kami laporkan, tapi belum ada tindakan. Harusnya ada penyemprotan atau langkah penanganan secepatnya,” keluhnya.
Warga mempertanyakan lambannya respons pihak terkait. Mereka berharap persoalan ini tidak dibiarkan berlarut-larut sebelum menimbulkan dampak kesehatan yang lebih serius.
Somasi Dilayangkan
Dari persoalan itu, Bulog Karawang disomasi. Somasi dilayangkan Selasa 30 Juni 2026 oleh kuasa hukum warga dari Law Firm Merah Putih. Langkah itu ditempuh setelah berbagai keluhan masyarakat disebut tak pernah memperoleh respons yang memuaskan.
“Kami melayangkan somasi atas kuasa warga RT 05 dan masyarakat di sekitar gudang. Sudah terlalu lama mereka mengeluhkan persoalan ini, tetapi belum ada penyelesaian yang nyata,” tegas kuasa hukum warga, Joen SH.
Menurut Joen, serbuan kutu bukan lagi gangguan sepele. Hama tersebut disebut telah menyebar hingga ke kawasan permukiman dan masuk ke rumah-rumah warga, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Ia menyebut informasi yang diterimanya mengarah pada dugaan bahwa sumber kutu berasal dari gudang beras Bulog di wilayah Tunggakjati.
Akibat kondisi itu, warga mengaku hidup tidak nyaman. Bahkan, pihak kuasa hukum mengaku menerima laporan adanya warga yang harus menjalani perawatan medis setelah terdampak.
“Ini bukan sekadar soal ketidaknyamanan. Ini sudah menyangkut kesehatan dan keselamatan masyarakat,” ujar Joen.
Karena itu, Bulog diminta segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut. Jika somasi tidak direspons, jalur hukum disebut menjadi opsi berikutnya.
“Apabila somasi ini diabaikan, kami akan mempertimbangkan gugatan. Keselamatan warga tidak boleh dianggap remeh,” tandasnya.
Tak berhenti pada persoalan kutu, warga juga mempertanyakan aktivitas di gudang yang disebut kerap berlangsung pada larut malam.
Berdasarkan keterangan yang diterima kuasa hukum, truk bermuatan beras disebut sering keluar-masuk gudang saat sebagian besar warga sedang beristirahat.
Yang juga memantik tanda tanya, karung beras yang masuk ke gudang disebut tidak menggunakan karung berlogo Bulog sebagaimana lazim dikenal masyarakat.
“Kami hanya menyampaikan apa yang menjadi laporan warga. Karung yang terlihat merupakan karung biasa, bukan berlogo Bulog. Kami tidak mengetahui asal-usul beras tersebut,” jelas Joen.
Klarifikasi Nihil
Hingga berita ini diterbitkan, Bulog Karawang belum memberikan tanggapan resmi atas somasi maupun berbagai dugaan yang disampaikan kuasa hukum warga.
Redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak Bulog Karawang agar publik mendapatkan penjelasan, klarifikasi, dan informasi yang berimbang terkait persoalan tersebut.
Upaya konfirmasi kepada pihak Bulog telah dilakukan. Melalui pesan WhatsApp, Jumat 3 Juli 2026, Humas Bulog Karawang, Mira, menyampaikan bahwa pihaknya sebelumnya telah memberikan klarifikasi kepada sejumlah awak media.
Ia juga menginformasikan Kepala Bulog Karawang, Kepala Bulog Karawang Rafki Ismael, belum dapat ditemui karena sedang berada di lokasi untuk melakukan peninjauan. JIBAY***






