TITIKTEMU — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 2 Karawang mendapat perhatian setelah seorang siswa menemukan ulat di dalam sayuran yang disajikan pada Selasa (6/10/2026).
Temuan itu diketahui ketika siswa hendak menyantap makanan yang diterimanya. Saat memeriksa sayuran sawi dalam ompreng, siswa tersebut melihat adanya ulat pada bagian daun.
Mengetahui kejadian tersebut, pihak sekolah langsung meminta siswa tidak mengonsumsi sayuran tersebut. Makanan kemudian diganti agar siswa tetap dapat mengikuti program MBG.
Humas SMKN 2 Karawang, Susi, mengatakan laporan dari siswa langsung ditindaklanjuti oleh pihak sekolah.
“Begitu ada siswa yang melapor, guru langsung meminta sayurnya jangan dimakan. Setelah itu kami tindak lanjuti dan makanan siswa tersebut diganti,” ujar Susi, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, terdapat dua ompreng yang berkaitan dengan temuan tersebut. Keduanya kemudian diganti dengan makanan baru sehingga siswa tetap memperoleh menu MBG.
Pihak sekolah selanjutnya menyampaikan temuan tersebut kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangpawitan 4 sebagai penyedia makanan.
“Kami langsung melakukan konfirmasi kepada pihak SPPG agar ke depannya quality control atau pemeriksaan kualitasnya bisa lebih ditingkatkan,” katanya.
Sementara itu, pihak SPPG Karangpawitan 4 membenarkan adanya temuan tersebut. Asisten Lapangan (PIC) SPPG, Nani, bersama Kepala SPPG Burhanudin, telah mendatangi sekolah untuk menindaklanjuti laporan.
Nani mengatakan ulat yang ditemukan berada pada sayuran sawi yang menjadi bagian dari menu MBG.
“Kami sudah datang ke sekolah dan menyelesaikan persoalan tersebut. Memang ditemukan ulat pada sayuran sawi,” ujar Nani.
Sebagai langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi, SPPG Karangpawitan 4 memutuskan untuk menghentikan sementara penggunaan sawi dalam menu MBG.
Untuk sementara, jenis sayuran tersebut akan diganti dengan sayuran lain.
“Untuk mencegah anak-anak mengalami trauma, sementara kami tidak menggunakan sawi dan menggantinya dengan jenis sayuran lainnya,” jelas Nani.
Nani menerangkan, bahan sayuran yang digunakan untuk menu MBG sebenarnya telah melalui proses pemeriksaan sebelum dimasak. Sayuran terlebih dahulu dicuci, kemudian direndam menggunakan air garam dan menjalani beberapa tahap penyortiran.
Namun, menurutnya, proses tersebut masih memiliki kemungkinan menyisakan satu atau dua ulat yang luput dari pemeriksaan.
Ia menilai temuan tersebut berkaitan dengan kondisi alami sayuran yang digunakan. Menurut Nani, sayuran yang digunakan tidak mengandung pestisida atau bahan berbahaya.
“Sayuran memang melalui beberapa kali proses pemeriksaan. Tetapi kalau masih ada satu atau dua yang lolos, itu kemungkinan bisa terjadi karena sayuran yang kami gunakan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya seperti pestisida,” katanya.
Nani juga memastikan ulat yang ditemukan merupakan ulat yang berasal dari sayuran, bukan berasal dari proses pengolahan lainnya.
Meski demikian, kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi SPPG Karangpawitan 4 untuk memperketat pemeriksaan bahan pangan, khususnya sebelum makanan didistribusikan kepada para siswa.
Pihak sekolah memastikan siswa yang menemukan ulat tidak sampai mengonsumsi sayuran tersebut. Makanan yang bersangkutan juga telah diganti dengan ompreng baru.
SPPG Karangpawitan 4 pun memilih mengganti sementara menu sawi sebagai langkah antisipasi sekaligus melakukan evaluasi terhadap proses pemeriksaan bahan makanan.





