TITIKTEMU – Keriput yang menghiasi wajahnya seolah menyimpan ribuan cerita tentang perjalanan panjang kehidupan. Di usia 89 tahun, Siti Zaenab masih duduk tenang dengan mushaf Al-Qur’an di tangannya. Setiap hari, lembar demi lembar ayat suci dibacanya dengan penuh khusyuk, sebagaimana yang telah ia lakukan selama puluhan tahun.
Perempuan kelahiran 1937 ini bukan hanya seorang lansia biasa. Ia adalah saksi hidup perjalanan bangsa Indonesia, yang pernah merasakan pahitnya masa penjajahan Belanda, kerasnya pendudukan Jepang, hingga lahirnya kemerdekaan yang kini dinikmati generasi penerus.
Lahir di Desa Jati, Kecamatan Baron, wilayah Kewedanaan Kertosono yang kini masuk Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Siti Zaenab tumbuh dalam keterbatasan. Ia merupakan putri dari pasangan Muhammad Yasin dan Siti Rokayah, keluarga sederhana yang menanamkan nilai-nilai agama sebagai bekal utama kehidupan.
Pendidikan formal yang ditempuhnya hanya sampai kelas lima di Madrasah Hidayatul Muslimat. Namun, bagi Siti Zaenab, pelajaran paling berharga justru datang dari rumah dan tempat mengaji.
“Saya selalu diingatkan orang tua, walaupun tidak punya apa-apa, ibadah jangan sampai ditinggalkan,” kenangnya dengan mata yang masih memancarkan keteguhan.
Nasihat sederhana itu menjadi kompas hidup yang menuntunnya melewati berbagai zaman. Saat banyak hal berubah, satu hal yang tetap ia jaga adalah kedekatannya dengan Al-Qur’an.
Masa kecilnya jauh berbeda dengan kehidupan anak-anak saat ini. Hampir tidak ada waktu untuk bermain. Siang hari digunakan untuk belajar di sekolah, sementara malam harinya dihabiskan untuk mengaji di Madrasah Hidayatul Muslimat yang dipimpin Kiai Kholil Sholeh.
Sosok guru yang paling membekas dalam ingatannya adalah Umi Husna, yang dengan sabar membimbing para santri kecil.
“Siang sekolah, malam ngaji. Tidak boleh banyak main,” tuturnya sambil tersenyum mengenang masa lalu.
Namun masa kecilnya tidak hanya dipenuhi pelajaran dan doa. Di balik itu, tersimpan kenangan tentang situasi perang yang membuat kehidupan masyarakat serba tidak menentu.
Ia masih mengingat bagaimana kegiatan belajar kerap terhenti karena kondisi keamanan yang mencekam. “Sekolah itu kadang sebentar-sebentar bubar karena ada perang,” ujarnya.
Kenangan tersebut menjadi bukti betapa generasinya harus tumbuh dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Ia menyaksikan pergantian kekuasaan dari Belanda ke Jepang, lalu Belanda kembali sebelum akhirnya Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Sebagai anak yang berusia sekitar delapan tahun saat Proklamasi 17 Agustus 1945 dikumandangkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, Siti Zaenab tumbuh bersama perjalanan bangsa yang sedang mencari jati diri dan membangun masa depan.
Kini, hampir sembilan dekade telah berlalu. Banyak orang yang pernah hidup sezamannya telah tiada. Bangunan-bangunan berubah, teknologi berkembang pesat, dan generasi demi generasi silih berganti.
Namun di tengah derasnya perubahan zaman, Siti Zaenab tetap memegang erat prinsip yang diwariskan orang tuanya sejak kecil.
Baginya, kekuatan hidup tidak terletak pada banyaknya harta yang dimiliki, melainkan pada keteguhan hati dalam menjaga hubungan dengan Sang Pencipta. Itulah sebabnya, meski usia terus bertambah dan fisik tak lagi sekuat dulu, ia tetap berusaha membaca Al-Qur’an setiap hari.
Kisah hidup Siti Zaenab mengajarkan bahwa pendidikan karakter dan nilai-nilai spiritual yang ditanamkan sejak dini akan menjadi bekal yang bertahan sepanjang hayat.
Ketika dunia terus bergerak cepat dan manusia sering kali disibukkan oleh urusan materi, keteladanan perempuan sepuh ini menjadi pengingat bahwa ada warisan yang jauh lebih berharga untuk dijaga: iman, disiplin, dan rasa syukur.
Di tangan Siti Zaenab, lembaran Al-Qur’an bukan sekadar bacaan. Ia adalah teman perjalanan yang menemani sejak masa penjajahan hingga Indonesia merdeka dan berkembang seperti sekarang. Setiap ayat yang dibacanya menjadi saksi bahwa usia boleh menua, tetapi semangat untuk beribadah dan berbuat baik tidak pernah mengenal batas waktu.
Dari rumah sederhananya, Siti Zaenab memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda: jangan pernah melupakan akar nilai yang membentuk diri.
Sebab kemajuan bangsa tidak hanya dibangun oleh kecanggihan teknologi dan kemegahan pembangunan, tetapi juga oleh manusia-manusia yang menjaga moral, keimanan, dan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan.***





